Perbandingan Usia Produktif Indonesia dengan Singapura
Sebagaimana diketahui jumlah penduduk selalu bertambah setiap
tahunnya, sedangkan luas wilayah akan selalu tetap. Ditambah saat ini Angka
Harapan Hidup (AHH) semakin tinggi. Artinya bahwa jumlah kelahiran yang ada
tidak mungkin diimbangi dengan terjadinya kematian karena tolok ukur
pengendalian jumlah penduduk dikatakan berhasil disaat angka kelahiran dan kematian
rendah. Namun persoalannya terletak pada persebaran yang tidak merata dan
tantangan beberapa tahun kedepan.
Tantangan
tersebut sudah mulai dirasakan saat ini seperti pengangguran, masalah pangan,
kemacetan transportasi, sampah, alih fungsi lahan, dan masih banyak persoalan
lain akibat pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Saat ini di
Indonesia angka kelahiran masih harus terus ditekan sehingga penduduk dapat
tumbuh seimbang. Salah satu langkah yang dilakukan BKKBN adalah dengan adanya Program
Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yang nantinya akan mendorong perempuan untuk
melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sekaligus mendorong perempuan
untuk masuk ke pasar kerja.Keberhasilan program pengendalian laju pertumbuhan
penduduk di Indonesia membuat struktur umur penduduk berubah. Jumlah penduduk
usia muda (0-14) menjadi semakin kecil, penduduk usia produktif (15-64) semakin
besar dan jumlah penduduk lanjut usia (65+) lebih sedikit jika dibandingkan
dengan penduduk usia produktif sehingga angka ketergantungan menjadi semakin
kecil.. Kembali lagi ke Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera Wilayah
di Indonesia memiliki karakterstik yang beragam. Sama halnya dengan kondisi
demografinya, dari wilayah Aceh hingga Papua yang memiliki memiliki tingkat
kepadatan penduduk berbeda. BKKBN perlu lagi untuk kembali menekankan lagi
bahwa program KB tidak semata-mata untuk kepentingan pemerintah. Program KB
yang dilaksanakan tidak bersifat memaksa, tetapi dilaksanakan dengan menanamkan
nilai-nilai pada masyarakat tentang makna membangun keluarga kecil yang bahagia
dan sejahtera. Program KB tidak hanya sekedar anjuran dua anak cukup tetapi
menghormati hak reproduksi seseorang. Hal ini diwujudkan melalui perencanaan
keluarga, jarak kehamilan anak pertama dan kedua serta pada usia berapa hingga
berapa yang nantinya disesuaikan dengan kondisi kesehatan wanita dan kondisi
perekonomian masing-masing keluarga.
Lain di
Indonesia, lain juga cerita tentang kebijakan tentang Keluarga Berencana yang
pernah dilakukan di negara lain. Jumlah populasi di suatu negara, terkadang
memaksa pemerintah untuk menerapkan kebijakan pengendalian, agar tidak terjadi
over populasi yang berdampak buruk bagi negara tersebut. Beberapa dari
kebijakan-kebijakan tersebut bisa dianggap ekstrem, aneh, dan mungkin ada yang
menganggap mengekang kebebasan warga negaranya. Berikut adalah
kebijakan-kebijakan tentang Keluarga Berencana di beberapa negara:
1. Stop at Two dan Graduate Mother Scheme di Singapura
Stop at Two adalah kebijakan kontrol populasi mirip KB di Indonesia
yang diberlakukan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pada akhir 1960-an.
Saat itu, PM Lee khawatir pertumbuhan populasi akan berdampak buruk bagi
pertumbuhan ekonomi Negeri Singa itu. Dalam kampanyenya, perempuan yang telah
memiliki dua anak dianjurkan untuk melakukan sterilisasi dengan berbagai
insentif menarik misalnya uang dalam jumlah besar. Namun, bagi mereka yang
melanggar akan mendapatkan pengurangan fasilitas, terutama pendidikan dan
perumahan, pengenaan denda bagi setiap anak mulai dari ketiga sampai
seterusnya.
Graduate Mother Scheme adalah sebuah kebijakan kontrol
populasi lain yang tidak biasa sempat berlaku di Singapura pada 1984. Berbeda
dengan Stop at Two, kebijakan kontrol populasi ini lebih berperan sebagai biro
jodoh bagi para perempuan Singapura yang telah lulus perguruan tinggi. PM Lee
Kuan Yew melihat para perempuan berpendidikan tinggi yang belum mendapatkan
pasangan sebagai sebuah masalah sosial yang serius. Merasa khawatir akan hal
ini, dia mendorong para pria Singapura untuk memilih para perempuan
berpendidikan tinggi. Tahun itu, kebijakan Graduate Mother Scheme (GMS)
diumumkan dan biro jodoh Social Development Unit (SDU) dibentuk. SDU berperan
sebagai wadah sosialisasi bagi para sarjana pria dan wanita untuk
bersosialisasi. Sedangkan Social Development Service (SDS) disediakan bagi
mereka yang bukan lulusan perguruan tinggi. Berbagai keistimewaan diberikan
bagi para sarjana yang berpartisipasi dalam program ini, di antaranya
pemotongan pajak dan prioritas perumahan. Namun, kebijakan ini dihapuskan
setahun kemudian karena banyaknya protes dari warga Singapura. Kebijakan ini
muncul karena PM Lee percaya bahwa “bibit” yang bagus akan menghasilkan buah
yang bagus pula.
2. One Child Policy di China
Kebijakan ini
telah dihapuskan pada 2015. One Child Policy di
China adalah salah satu kebijakan kontrol populasi paling dikenal yang pernah
diberlakukan di dunia. Sejak 1979, setiap keluarga di China hanya diizinkan
untuk memiliki satu orang anak saja, atau mereka akan dikenai denda besar
dengan berbagai pencabutan fasilitas dan pelayanan yang diberikan negara kepada
mereka. Begitu beratnya denda dan hukuman yang diberikan, beberapa pasangan
memilih melakukan aborsi terhadap janin mereka, dan diduga ada anak-anak yang
disembunyikan oleh orangtuanya karena hal ini. Kebijakan ini mulai dilonggarkan
pada 2013, sebelum dihapuskan pada tahun 2015 setelah China menyadari ada
ketimpangan demografi usia penduduk mereka. Sekarang, keluarga di China dapat
memiliki maksimal dua orang anak.
3. Solusi Sterilisasi Berhadiah Mobil di India
India sebagai
salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, tentu saja populasi
jadi salah satu masalah bagi negara ini. Demi menghambat perkembangan
penduduknya, Pejabat Kesehatan di Provinsi Rajashtan, India, mengumumkan sebuah
kampanye yang mendorong warganya, laki-laki dan perempuan untuk melakukan
sterilisasi sehingga mereka tidak bisa memiliki anak lagi. Sebagai gantinya,
mereka dijanjikan hadiah-hadiah menarik seperti motor, televisi, blender,
bahkan mobil. Penawaran ini berlaku bagi seluruh warga India, tidak hanya
penduduk Rajashtan saja. Penawaran serupa juga dilakukan di provinsi-provinsi
lainnya di India, setelah kampanye nasional untuk sterilisasi diberhentikan pada
1970 karena protes dari ribuan penduduk yang mengaku dipaksa untuk menjalani
operasi.
Hal –hal yang
telah disampaikan tersebut hanya sebagai perbandingan bahwa di Indonesia
program yang dijalankan oleh Pemerintah masih lebih manusiawi dibandingkan dengan
kebijakan yang telah atau pernah dijalankan di negara lain.. Di negara
berkembang seperti Indonesia yang mempunyai sumber daya alam melimpah menjadi
suatu tantangan tersendiri untuk dapat mengoptimalkan potensi sumber daya
manusianya yang baik. Salah satu caranya adalah dengan Program Keluarga
Berencana yang saat ini harus segera digencarkan lagi, slogan dua anak cukup
harus mulai tertanam kembali pada pola pikir masyarakat. Hal ini yang
melatarbelakangi mengapa perlu ditanamkan pentingnya perencanaan keluarga
terkait kelahiran yang tepat. Pemerintah saat ini, harus dapat mengatasi
masalah kependudukan termasuk pengaturan Keluarga Berencana lebih baik lagi
sehingga dapat mengembalikan Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera.
REFERENSI:
http://lipi.go.id/berita/jumlah-usia-produktif-besar-indonesia-berpeluang-tingkatkan-produktivitas/15220
Komentar
Posting Komentar